Minggu, 07 Agustus 2011

Dunia (yang hanya) selebar Daun Mangkokan


Setelah membaca Madre,

Saya langsung tergerak untuk mengetahui lebih banyak mengenai silsilah darah keluarga kami. Disamping juga terpicu karena hitungan sudah lebih dari sepuluh jari orang-orang yang mengira saya ada darah Arabnya. Jadilah sore itu, setelah selesai membaca madre, saya putuskan untuk sungguh-sungguh menamatkan penasaran saya akan silsilah keluarga kami. Sebelum ini, saya tidak pernah benar-benar serius ketika bertanya tentang silsilah keluarga pada Orang tua saya. Hanya sambil lalu, tidak benar-benar ingin tahu. Tidak terlalu peduli, barangkali. Parah!! Hhehe..

Yang pertama kali saya hampiri dan tanyai sore itu adalah Ibu saya. Ada sedikit kecewa ketika mendengar jawaban Ibu saya bahwa kedua Orang tua Ibu berdarah murni Bukit Tinggi. Tapi tak apalah. Masih ada Ayah. Sebetulnya saya sedikit curiga kalau Opa saya yang dari Ayah berdarah campuran. Dulu sekali saya sempat mengira jangan-jangan Opa saya ini ada darah kompeninya. Bwahhaha.. Entahlah. Praduga itu muncul begitu saja ketika saya melihat-lihat foto muda Opa. Praduga itu tak pernah berubah menjadi pertanyaan. Lagi-lagi karena saya tidak benar-benar ingin tahu waktu itu.

Saya mewarisi mata cokelat dari Opa. Mata cokelat!! Bukanlah mata mayoritas kebanyakan orang Indonesia. Barangkali saja ada 12.5% darah saya yang berasal bukan dari Pulau Sumatera. Tapi kemudian, saya kecewa lagi. Kandas sudah harapan memiliki darah campuran. Ayah bilang kedua Orang tuanya pun berdarah murni Bukit Tinggi. Ternyata saya urang awak sejati. Hhehe..


Ada cerita yang mengikuti jawaban-jawaban dari pertanyaan saya tadi. Cerita yang sudah pernah saya dengar beberapa kali. Dan selalu senang mendengar kembali cerita itu ketika dikenang lagi. Cerita tentang pertemuan Ayah dan Ibu saya dulu. Cerita tentang dunia yang hanyalah selebar daun mangkokan bagi kisah cinta mereka. Bagaimana tidak. Ayah dan Ibu saya adalah perantau yang tinggal di Jakarta. Pada waktu itu, Ibu saya bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta. Ayah saya tinggal di sebuah kontrakan yang tidak jauh dari rumah sakit itu. Sepulang kerja, ayah saya sering kongkow bersama temannya (yang memang bekerja di rumah sakit itu) di sekitar lingkungan rumah sakit. Dari kongkow itulah akhirnya entah bagaimana Ayah saya bisa berkenalan dengan Ibu saya.

Mereka bertemu. Bertukar cerita sebagaimana layaknya anak muda yang sedang kasmaran. Sampailah kemudian obrolan mereka pada pertanyaan tentang latar belakang dan asal usul keluarga. Saya sedikit tergelitik membayangkan bagaimana ekspresi Orang tua saya pada waktu itu ketika mengetahui bahwa mereka bukan hanya berasal dari kampung halaman yg sama, tapi mereka juga berasal dari suku yang sama. Huahh.. Jauh-jauh merantau ke Jakarta, ehh ketemunya sama yang sekampung halaman juga, satu suku pula. Betapa dunia hanya selebar daun mangkokan bagi mereka. Bukan begitu?! Hhehe..

Barangkali inilah yang sering dikatakan orang sebagai Takdir Tuhan. Barangkali. Karena saya juga belum yakin benar kalau jodoh itu merupakan Takdir Tuhan. Apakah jodoh Tuhan yang menentukan?? Tuhan yang pilihkan?? Entahlah..

Yang menarik lagi dari cerita itu, Ibu bilang dalam adat istiadat minangkabau, apabila terjadi pernikahan dalam satu suku maka mesti ada tebusannya. Seekor kerbau yang kepalanya nantinya dihidangkan di tengah-tengah ruangan resepsi pernikahan. Apakah maksud dari tebusan itu?? Ibu saya juga tidak terlalu paham. Apakah mereka menghiraukan adat istiadat satu itu?? Tidak. Bwahhaha.. Ayah Ibu saya memang oke berat. Memilih untuk tidak terikat dan terbelenggu dengan adat istiadat yang tidak masuk akal itu. :)

D’zst room. Minggu, 7 Agustus 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar